Fast Fashion vs Slow Fashion: Dampak & Pilihan Berkelanjutan

Fast fashion kini menjadi fenomena besar yang mengubah cara orang berbelanja pakaian. Produksi cepat, harga murah, dan koleksi yang terus berganti memang menggiurkan. Namun, di balik itu semua, muncul konsekuensi besar yang perlu kita sadari. Di sisi lain, gerakan slow fashion hadir sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan etis. Lantas, apa perbedaan keduanya? Mari kita bahas bersama!
Apa Itu Fast Fashion?
Fast fashion adalah model bisnis fesyen yang memproduksi pakaian dalam jumlah besar, cepat, dan murah, mengikuti tren yang sedang viral. Brand-brand besar seperti Zara, H&M, atau Forever 21 merupakan contoh paling terkenal. Konsumen bisa tampil kekinian dengan harga terjangkau. Sayangnya, model bisnis ini memiliki banyak sisi kelam yang sering terlupakan.
Dampak Buruk Fast Fashion
Produksi massal dalam fast fashion bukan sekadar soal baju murah. Ada dampak besar di baliknya, di antaranya:
-
Limbah tekstil berlebihan. Pakaian yang cepat rusak atau ketinggalan tren berujung ke tempat sampah. Bahkan, menurut Ellen MacArthur Foundation, sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahunnya.
-
Eksploitasi tenaga kerja. Banyak pabrik di negara berkembang mempekerjakan buruh dengan upah rendah dan kondisi kerja yang buruk.
-
Polusi lingkungan. Penggunaan bahan kimia pewarna, konsumsi air berlebihan, serta emisi karbon tinggi menjadi “biaya tersembunyi” di balik pakaian murah yang kita pakai.
Fakta mengejutkan: Setiap detik, satu truk sampah berisi pakaian dibuang ke tempat pembuangan akhir atau dibakar.
Tragedi Rana Plaza: Bukti Nyata Bahaya Fast Fashion
Sebagai contoh nyata, tragedi Rana Plaza di Bangladesh tahun 2013 membuka mata dunia. Bangunan pabrik tekstil runtuh, menewaskan lebih dari 1.100 pekerja yang memproduksi pakaian untuk brand-brand ternama. Sejak saat itu, kampanye global seperti #WhoMadeMyClothes dari Fashion Revolution mulai menggugah kesadaran banyak orang.
Apa Itu Slow Fashion?
Berbeda dengan fast fashion, slow fashion berfokus pada keberlanjutan, kualitas, dan etika. Pakaian slow fashion biasanya:
-
Tahan lama
-
Menggunakan bahan ramah lingkungan
-
Diproduksi secara adil oleh pengrajin lokal
Di Indonesia, beberapa brand seperti SukkhaCitta, Sejauh Mata Memandang, dan IMAJI Studio, dan lain nya sudah menerapkan prinsip slow fashion. Mereka memanfaatkan bahan lokal, proses handmade, dan memastikan kesejahteraan pengrajin.
Bagaimana Memulai Slow Fashion?
Beralih ke slow fashion tidak harus langsung besar-besaran. Sebaliknya, mulailah dari langkah kecil:
-
Rawat pakaian agar awet lebih lama.
-
Daur ulang atau donasikan pakaian yang tidak terpakai.
Dengan demikian, kita bisa membantu mengurangi limbah tekstil secara nyata.
Kesimpulan: Pilih Mana?
Fast fashion memang menggoda dengan tren yang cepat berganti. Namun, slow fashion menawarkan masa depan yang lebih baik. Bukan hanya untuk lingkungan, tapi juga untuk manusia dan keuangan pribadi kita.
Oleh karena itu, mari menjadi pembeli yang lebih bijak dan bertanggung jawab.
Untuk informasi seputar gaya hidup berkelanjutan lainnya, jangan ragu untuk jelajahi artikel menarik lainnya di Prismatik.id — kami rutin membahas berbagai isu sosial dan lingkungan yang inspiratif.


