Slow Living vs Soft Living: Gaya Hidup Santai yang Sedang Naik Daun

Slow Living vs Soft Living: Gaya Hidup Santai yang Sedang Naik Daun

Di tengah dunia yang makin sibuk dan penuh tekanan, dua gaya hidup mulai ramai dibicarakan: slow living dan soft living. Keduanya sama-sama mengusung ide untuk hidup lebih tenang dan sadar, tapi ternyata punya pendekatan yang berbeda, lho.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan slow living dan soft living? Yuk, kita kupas tuntas satu per satu. Siapa tahu, salah satunya cocok jadi gaya hidup kamu ke depan.

slow living vs soft living
https://goodlife.id/wp-content/uploads/2023/08/slow-living-3-freepik.jpg

Apa Itu Slow Living?

Slow living adalah gaya hidup yang menekankan pada kesadaran dalam menjalani hari. Bukan berarti semuanya harus lambat, tapi lebih ke soal menikmati setiap proses hidup tanpa terburu-buru.

Orang yang menjalani slow living biasanya:

  • Memilih hidup minimalis dan mindful.
  • Mengurangi distraksi digital.
  • Menyukai rutinitas sederhana seperti membaca, berkebun, atau memasak dari bahan segar.
  • Menghindari multitasking dan lebih fokus pada satu hal dalam satu waktu.

Ciri utama:

  • Simplicity – menyederhanakan hidup, baik fisik maupun mental .
  • Mindfulness – hadir secara penuh di setiap aktivitas sehari-hari .
  • Connection – memperdalam hubungan dengan orang lain dan alam.
  • Kecepatan yang tepat – bukan lambat sengaja, tapi “cepat perlahan”, melakukan hal pada kecepatan yang pas.

Intinya, slow living mengajak kita untuk berhenti mengejar kecepatan dan mulai hidup lebih sadar.

Apa Itu Soft Living?

Sementara itu, soft living atau soft life lebih berfokus pada kenyamanan emosional dan self-care. Gerakan ini awalnya populer di media sosial, terutama di kalangan perempuan kulit hitam sebagai bentuk perlawanan terhadap tekanan hidup dan kerja keras berlebihan (hustle culture).

Orang yang menjalani soft living biasanya:

  • Mengutamakan kenyamanan dan ketenangan jiwa
  • Rutin melakukan self-care (skincare, journaling, spa, dll)
  • Menolak stres dan toxic relationship
  • Menikmati hidup tanpa rasa bersalah, bahkan ketika sedang tidak “produktif”

Ciri utama:

  • Comfort & pampering – investasi dalam hal yang membuat hidup terasa mewah dan nyaman.
  • Enjoyment & leisure – memberi ruang untuk menikmati makanan enak, spa, yoga, jalan santai, dan momen relaksasi .
  • Batasan dan kesehatan mental – berani bilang “tidak”, menjaga diri, dan menghindari stres .
  • Self‑care – fokus pada rutinitas kesejahteraan diri, dari pola makan, olahraga ringan, hingga kegiatan mindful lainnya .

Soft living bukan berarti malas, tapi lebih kepada memilih ketenangan sebagai prioritas.

Slow vs Soft: Apa Bedanya?

Walau sama-sama menolak tekanan hidup yang berlebihan, keduanya punya fokus yang berbeda.

Aspek Slow Living Soft Living
Tujuan Hidup lebih sadar & lambat Hidup lebih nyaman & bebas stres
Fokus Proses dan kesederhanaan Perasaan dan kenyamanan
Gaya Minimalis, alami Elegan, self-reward
Contoh Memasak tanpa tergesa, membaca buku Spa di rumah, minum teh sambil journaling
Media sosial Jarang dan lebih privat Aktif dan sering dibagikan

Jadi, Mana yang Cocok Buat Kamu?

Keduanya tidak harus dipilih salah satu kok. Bisa saja kamu slow living di hari kerja — misalnya dengan fokus satu tugas dalam satu waktu, tanpa distraksi — lalu soft living di akhir pekan, seperti nonton film favorit sambil pakai sheet mask dan lilin aromaterapi.

Yang terpenting adalah kamu merasa tenang, bahagia, dan nggak kelelahan oleh ekspektasi sosial.

Penutup: Gaya Hidup yang Lebih Manusiawi

Baik slow living maupun soft living adalah bentuk perlawanan terhadap gaya hidup serba cepat dan penuh tekanan. Di Prismatik.id, kita percaya bahwa hidup nggak selalu soal produktivitas — kadang, berhenti sejenak dan bernapas pun adalah pencapaian.

Jadi, kamu tim slow living atau soft living? Atau mungkin, kamu tim “aku butuh dua-duanya”? 😊

Temukan lebih banyak konten gaya hidup santai, inspiratif, dan relevan hanya di Prismatik.id. Jangan lupa share artikel ini kalau kamu merasa relate, ya!

bagikan artikel ini:

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Email

Tags